Category: Renungan

True Story: Suami dan Tangisan Kedua Seorang Istri

Ketika seorang suami meninggal, terkadang sang istri dibuatnya menangis DUA kali!

Jakarta, 9 Oktober 2012

“Mas, saya boleh titip plastik ini sebentar ya?”

tangis isteri

tangis isteri

Seorang ibu paruh baya mendatangi saya yang sedang menunggu di lobi sebuah perusahaan BUMN raksasa di kawasan Jalan Gatot Subroto Jakarta

“Boleh bu, taruh saja di sini”, jawab saya sambil menunjuk sebuah titik di dekat kaki saya.”

Tak lama kemudian sang ibu berjalan menuju meja resepsionis. Saya ikuti langkahnya dengan ekor mata saya sampai tak lama kemudian dia kembali menuju tempat saya berdiri dengan langkah gontai dan wajah yang muram

“Kenapa bu?”
“Iya, saya tidak boleh naik ke atas oleh pak satpam”
“Emang ibu dari mana?”
“Dari berobat di poliklinik, saya bawa barang dagangan buat orang, tapi saya gak boleh naik ke atas.”

Saya memperhatikan sekilas ibu ini, siapa ibu ini? Yang saya ketahui, hanya karyawan dan keluarga karyawan yang bisa berobat di poliklinik kantor ini. Rasa penasaran membawa saya mengajukan beberapa pertanyan sampai terkuak fakta bahwa ternyata dia istri seorang karyawan yang meninggal pada usia 34 tahun, tepat 10 tahun lalu.

Ya, suaminya meninggal.
Karena serangan jantung.
Dia usianya yang masih sangat muda….
Hmm, sekedar informasi kalau Anda penasaran karena apa dia meninggal : ROKOK!

Okelah, kita tinggalkan rokok dulu sejenak. Kali lain saya akan bahas lebih dalam soal barang laknat itu.

Sang almarhum, telah bekerja 14 tahun sebelum beliau meninggal. Perusahaan tempat dia bekerja memberikan uang duka sebesar Rp. 60 juta untuk istrinya. Mendapatkan uang Rp. 60 juta , ibu ini langsung memutuskan untuk membeli sebuah rumah di bilangan Ciledug karena sebelumnya mereka hanya mengontrak di daerah ini. Dan perlu dicatat, dia masih tetap mendapat uang pensiun bulanan.

Anaknya ada tiga, ketika meninggal putra bungsunya masih berusia 2 tahun.
Sang ibu berusia 32 tahun kala itu

Karena ternyata uang pensiun dari kantor tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari, si ibu berniat untuk memulai bisnis dengan modal dari hasil menjual rumah itu. Dan tahun 2004 akhirnya rumah itu dijual kembali dengan harga Rp. 80 juta. Jadi Rp. 40 juta untuk usaha dan Rp. 40 juta untuk kembali mengontrak rumah di Ciledug.

Hmmm, suara sang ibu suah mulai melirih…
Matanya mulai berkaca-kaca, tapi terlihat ketegaran di raut mukanya.

Dia mulai menceritakan tentang bagaimana bisnis yang dia rintis berakhir tragis. Dia merasa kegagalannya adalah karena tidak ada pengalaman usaha, sebagai informasi, si ibu memilih kredit elektronik sebagai bisnisnya. Banyak ditipu, banyak pembeli yang menghilang dan tidak membayar dan akhirnya berangsur habis.

Dia mulai berpikir kala itu agar uangnya tidak habis. Dan akhirnya pindah ke Rangkasbitung dengan membeli rumah seharga Rp. 30 juta. Ini adalah tempat tinggalnya sekarang. Dan saat ini dia berjualan pempek di sebuah SMP di Rangkasbitung,

Dan akhirnya saya tidak tahan untuk bertanya pada dia :
“Bawa apa sih di tas plastik ini bu?”

Krupuk! Sang ibu menjual krupuk untuk menutup buat ongkos perjalanannya dari rumah ke poliklinik saja. Tapi karena tidak bisa naik ke atas , maka sang ibu tidak dapat uang maksimal hari itu.

DUA KALI!

Tak cukup membuatnya menangis untuk kali pertama ketika sepulang dari pemakaman, dia menyadari bahwa ada sosok yang baik, ramah, tanggung jawab, lembut yang selama ini menyayanginya dan anak-anaknya secara tulus, saat ini sudah tiada lag

Hari berganti….
Minggu terlewati….
Bulan demi bulan…
Sampai akhirnya 2 tahun, dia mulai bisa terbiasa dengan kondisi ini.

Sampai akhirnya dia menangis lagi untuk kedua kalinya, dan kali ini tangisannya lebih memilukan dibanding yang pertama. Dia menangis, bahwa ternyata suaminya tidak meninggal sendiri. “DIA AJAK GAJINYA IKUT MENINGGAL BERSAMANYA!!”. Dan tabungan dari almarhum suaminya mulai menipis dan habis, barulah dia sadar bahwa ia perlu bekerja lagi untuk memenuhi kebutuhan.

Wahai para suami!
Keputusan Anda hari ini yang akan membuat istri Anda (insya Allah) tidak perlu menangis untuk kedua kalinya.
Sehingga ketika kita nanti sudah berpindah alam dan Tuhan memberikan kita kesempatan untuk melihat kondisi keluarga kita di dunia, Anda akan tersenyum dan tak perlu mengajukan permintaan pada Tuhan : “Ya Tuhan, kalau kiranya Kau berikan aku kesempatan untuk turun sejenak ke dunia, 5 menit saja, aku akan menemui agen asuransi yang dulu pernah datang pada saya, saya akan menandatangani kontrak asuransi jiwa syariah yang dibawanya….”

*diambil dari blog pribadi seorang teman: Gusnul Pribadi

Advertisements